Membangun Kepercayaan dengan Moral dan Integritas

Sebelumnya kami sudah pernah menulis mengenai pentingnya moral dan etika dalam bisnis. Masih berhubungan dengan moral dan etika, kali ini kami akan membahas mengenai moral dan integritas sebagai salah satu faktor utama dalam meraih kepercayaan dalam bisnis.

Secara garis besar, “kepercayaan” atau trust dipengaruhi oleh 2 faktor utama yaitu faktor moral dan kompetensi. Hal ini berarti bahwa kepercayaan pasar akan bisa diraih jika didukung oleh adanya kualitas moral dan kompetensi profesional yang baik.

Ada sebuah artikel menarik di detik.com mengenai pengalaman Menteri Susi Pudjiastuti dalam menjalankan bisnisnya terkait dengan kepercayaan atau trust ini.
Sebagaimana ditulis dalam artikel tsb, Susi Pudjiastuti, yang juga merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja Presiden Jokowi-Jusuf Kalla periode 2014-2019 ini menuturkan bahwa meskipun beliau pernah drop out (DO) dari sekolah atau berhenti bersekolah, namun beliau sukses mengembangkan bisnisnya dengan dukungan tingkat kepercayaan yang tinggi dari pembeli, hingga saat ini berhasil memiliki pesawat sampai 50 unit dengan label “Susi Air”.
“..saya rasa ketulusan penting untuk meningkatkan kepercayaan,” demikian beliau menyatakan, sebagaimana ditulis dalam bagian akhir artikel tsb.

Tentu kepercayaan dari pembeli tidak begitu saja datang dengan sendirinya. Dengan menggunakan reputasi nama baiknya sebagai “jaminan”, Menteri Susi berhasil mendapatkan kepercayaan pembeli.
Silakan anda baca artikel tsb selengkapnya dengan mengklik tautan di atas.

Dari pengalaman Menteri Susi tsb kita bisa menarik pelajaran bahwa meskipun dahulu sempat memiliki kekurangan dari segi kompetensi (karena drop out sekolah), namun dengan reputasinya yang selalu mengedepankan nilai moral dan integritas yang tinggi, beliau bisa meraih kepercayaan pembeli.

Meskipun dalam praktik tak jarang faktor kualitas moral dan integritas berperan besar untuk meraih kepercayaan pasar sebagaimana pengalaman Menteri Susi di atas, namun kita juga tidak boleh melupakan kompetensi profesional yang juga merupakan hal yang penting untuk meraih kepercayaan pasar itu.

Dalam persaingan bisnis global masa kini dimana perhatian para pelaku bisnis terfokus pada dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menguasai pasar, peranan karakter dan nilai-nilai moral akan menjadi sangat penting sebagai karakteristik pembeda yang akan menjadi “trademark” bisnis anda.

Karena sejatinya, reputasi anda dan bisnis anda pertama kali dibangun dengan moral dan integritas yg anda punya, baru setelah itu kompetensi anda!

 

Moral dan Etika dalam Bisnis

Moral dan Etika vs Batu Akik
Magma cair yang ada di dalam perut bumi memerlukan waktu yang sangat lama, mencapai jutaan hingga miliaran tahun melalui proses vulkanik sampai menjadi batuan kristal untuk kemudian digosok dan dipoles hingga menjadi perhiasan yang kita kenal sekarang sebagai batu akik seperti safir, bacan, kecubung dan lainnya (sumber: detik.com).

Seperti halnya proses terjadinya batu akik yang memerlukan waktu yang sangat lama, menanamkan dan menumbuhkan niliai-nilai moral dan etika dalam diri seseorang juga memerlukan waktu yang sangat lama, yang jika boleh diibaratkan menyerupai proses terjadinya batu akik tadi.
Untuk itulah proses menananamkan moral dan etika harus dimulai sejak usia dini karena prosesnya yang lama tadi.

Singkatnya, di zaman yg serba instant ini, untuk menjadikan seseorang memiliki moral yang baik tidak bisa dilakukan secara instant (seketika). Dibutuhkan proses yang berkesinambungan.

Moral dan Etika vs Profesionalitas
Profesionalitas dalam dunia bisnis erat dikaitkan dengan keahlian, kecakapan teknis dsb.
Jika dibandingkan dengan proses pembentukan karakter seseorang sehingga memiliki moral dan etika yang baik, maka untuk menjadi seorang profesional yang menguasai suatu keahlian atau kecakapan teknis tertentu, biasanya prosesnya jauh lebih cepat.

Tanpa bermaksud untuk mengecilkan proses belajar dan usaha keras yg harus dilalui dalam menguasai suatu keahlian tertentu, disini penulis hanya ingin memberi perbandingan sederhana bahwa penguasaan terhadap keahlian tertentu yang bersifat kecakapan teknis, pengetahuan (knowledge) dsb lebih mudah diraih jika dibandingkan dengan pembentukan karakter seseorang yg membutuhkan proses yang lebih lama dan berkesinambungan untuk mencapainya.

“Lebih mudah untuk mengajarkan ilmu pengetahuan (science) dibanding menanamkan moral dan etika”

dengan demikian, maka

“Lebih mudah mencetak orang pintar daripada mencetak orang baik”

Baik moral, etika maupun profesionalitas dan kecakapan teknis sangat diperlukan dalam dunia bisnis. Moral, etika dan profesionalitas saling melengkapi dan mutlak harus dimiliki oleh para pelaku bisnis.
Jika kita ingin menjadi profesional seutuhnya, nilai-nilai moral dan etika seperti kejujuran, ketulusan, keadilan dsb harus menjadi landasan dalam setiap perilaku maupun keputusan dan strategi yang kita jalankan. Jika kita tidak memberikan perhatian pada nilai-nilai moral dan etika ketika menjalankan bisnis, maka dikhawatirkan akan dapat terjerumus dalam pola pikir yang hanya mengutamakan materi atau keuntungan dengan menghalalkan segala cara.

Tempatkanlah nilai-nilai moral, etika dan kemanusiaan bersama-sama dalam organisasi yang sedang anda bangun. Mulailah dengan merekrut orang-orang yang bukan hanya profesional, tapi juga berintegritas dan memiliki moral yang baik untuk menjalankan bisnis anda. Tujuan organisasi harus tercapai namun secara selaras juga harus berlandaskan kepada nilai-nilai moral dan etika.

Selamat menjalankan bisnis anda!