{"id":219,"date":"2015-02-11T18:07:28","date_gmt":"2015-02-11T11:07:28","guid":{"rendered":"http:\/\/aadriana.net\/?p=219"},"modified":"2015-03-21T03:24:20","modified_gmt":"2015-03-20T20:24:20","slug":"tata-cara-restitusi-ppn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aadriana.net\/?p=219","title":{"rendered":"Tata Cara Restitusi PPN"},"content":{"rendered":"<p align=\"justify\"><strong>DASAR HUKUM<\/strong><\/p>\n<div align=\"justify\">\n<ol>\n<li>Undang-undang PPN Nomor 42 Tahun 2009<\/li>\n<li>Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 72\/PMK.03\/2010 tentang Tata Cara Pengembalian Kelebihan PPN\/PPnBM<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<p align=\"justify\"><strong>PKP HANYA DAPAT MENGAJUKAN PERMOHONAN PENGEMBALIAN (RESTITUSI) PADA AKHIR TAHUN BUKU<\/strong><\/p>\n<div align=\"justify\">\n<ol>\n<li>Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar daripada Pajak Keluaran,<strong>selisihnya merupakan kelebihan Pajak yang dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya.<\/strong><\/li>\n<li><strong>PKP dapat mengajukan permohonan pengembalian atas kelebihan Pajak (restitusi) pada akhir tahun buku.<\/strong>Bagi PKP Orang Pribadi yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan, pengertian tahun buku adalah tahun kalender.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<p align=\"justify\"><strong>PKP YANG DAPAT MENGAJUKAN PERMOHONAN PENGEMBALIAN (RESTITUSI) PADA SETIAP MASA PAJAK<\/strong><\/p>\n<div align=\"justify\">\n<ol>\n<li>PKP yang melakukan ekspor BKP Berwujud;<\/li>\n<li>PKP yang melakukan penyerahan BKP dan\/atau penyerahan JKP kepada Pemungut PPN<\/li>\n<li>PKP yang melakukan penyerahan BKP dan\/atau penyerahan JKP yang PPN-nya tidak dipungut;<\/li>\n<li>PKP yang melakukan ekspor BKP Tidak Berwujud;<\/li>\n<li>PKP yang melakukan ekspor JKP; dan\/atau<\/li>\n<li>PKP dalam tahap belum berproduksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2a) Undang-Undang PPN. (Isi Pasal 9 ayat (2a) UU PPN : Bagi Pengusaha Kena Pajak yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan atas perolehan dan\/atau impor barang modal dapat dikreditkan)<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<p align=\"justify\"><strong>CARA PENGAJUAN PERMOHONAN PENGEMBALIAN (RESTIRUSI)<\/strong><\/p>\n<div align=\"justify\">\n<ol>\n<li>PKP dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan Pajak dengan menggunakan :\n<ol type=\"\">\n<li>SPT Masa PPN, dengan cara mengisi (memberi tanda silang) pada kolom &#8220;Dikembalikan (restitusi)&#8221;; atau<\/li>\n<li>Surat permohonan tersendiri, apabila kolom &#8220;Dikembalikan (restitusi)&#8221; dalam SPT Masa PPN tidak diisi atau tidak mencantumkan tanda permohonan pengembalian kelebihan Pajak.<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<li>Permohonan pengembalian kelebihan Pajak diajukan kepada KPP di tempat PKP dikukuhkan.<\/li>\n<li>Permohonan pengembalian kelebihan Pajak ditentukan 1 (satu) permohonan untuk 1 (satu) Masa Pajak.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<p align=\"justify\"><strong>PENELITIAN DAN SURAT KEPUTUSAN PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK (SKPPKP)<\/strong><\/p>\n<div align=\"justify\">\n<ol>\n<li><strong>Penelitian dilakukan terhadap<\/strong> permohonan pengembalian kelebihan Pajak yang diajukan oleh:\n<ol type=\"a\">\n<li><strong>PKP kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C UU KUP<\/strong>;\n<ul>\n<li>Pasal 17C UU KUP berisi tentang WP dengan Kriteria tertentu (WP Patuh).<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li><strong>PKP yang memenuhi persyaratan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17D UU KUP; atau<\/strong>\n<ul>\n<li>Pasal 17 D UU KUP berisi tentang WP yang memenuhi persyaratan tertentu.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li><strong>PKP berisiko rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4c) UU PPN. <\/strong>Penelitian oleh DJP dilakukan terhadap:\n<ul>\n<li>kebenaran pemenuhan ketentuan Pasal 9 ayat (4b) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e Undang-Undang PPN;<\/li>\n<li>kelengkapan Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya;<\/li>\n<li>kebenaran penulisan dan penghitungan pajak; dan<\/li>\n<li>kebenaran pembayaran pajak yang telah dilakukan oleh Wajib Pajak.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<li>Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan Pajak yang diajukan oleh PKP, harus <strong>menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP) paling lama 1 bulan sejak saat diterimanya permohonan pengembalian kelebihan Pajak<\/strong>.<\/li>\n<li>Apabila jangka waktu 1 bulan tersebut telah lewat dan Direktur Jenderal Pajak tidak menerbitkan SKPPKP, permohonan pengembalian kelebihan Pajak yang diajukan <strong>dianggap dikabulkan<\/strong> dan SKPPKP harus diterbitkan paling lama 7 hari setelah jangka waktu 1 bulan tersebut berakhir.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<p align=\"justify\"><strong>TIDAK DITERBITKANNYA SKPPKP TERHADAP PKP BERESIKO RENDAH<\/strong><\/p>\n<div align=\"justify\">\n<ol>\n<li><strong>Terhadap PKP beresiko rendah, SKPPKP tidak diterbitkan apabila :<\/strong>\n<ol type=\"a\">\n<li>hasil penelitian menyatakan Pengusaha Kena Pajak tidak memenuhi ketentuan Pasal 9 ayat (4b) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e Undang- Undang PPN;<\/li>\n<li>hasil penelitian menyatakan tidak lebih bayar;<\/li>\n<li>lampiran Surat Pemberitahuan tidak lengkap; dan\/atau<\/li>\n<li>pembayaran Pajak tidak benar.<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<li>Dalam hal SKPPKP tidak diterbitkan, terhadap PKP beresiko rendah tersebut harus diberikan pemberitahuan secara tertulis dengan menggunakan formulir lampiran PMK-72\/PMK.03\/2010 dan permohonan pengembalian kelebihan Pajak; dari PKP ini akan diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17B UU KUP.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<p align=\"justify\"><strong>PEMERIKSAAN DAN SKP<\/strong><\/p>\n<div align=\"justify\">\n<ol>\n<li><strong>Pemeriksaan dilakukan terhadap<\/strong> permohonan pengembalian kelebihan Pajak yang diajukan oleh PKP <strong>selain<\/strong>:\n<ol type=\"a\">\n<li>PKP Kriteria tertentu (Pasal 17 C UU KUP),<\/li>\n<li>PKP yang memenuhi persyaratan tertentu (Pasal 17 D UU KUP),<\/li>\n<li>PKP Resiko rendah (Pasal 9 ayat 4C UU PPN).<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<li>Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan Pajak harus menerbitkan SKP <strong>paling lama 12 bulan sejak permohonan pengembalian kelebihan Pajak diterima.<\/strong> Jangka waktu 12 bulan ini tidak berlaku dalam hal terhadap PKP sedang dilakukanpemeriksaan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan.<\/li>\n<li>Apabila setelah melampaui jangka waktu 12 bulan tersebut Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan, permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan SKPLB harus diterbitkan paling lama 1 bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir.;<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<p align=\"justify\"><strong>PEMERIKSAAN TERHADAP PKP PASAL 17 C UU KUP, PASAL 17D UU KUP, PKP RESIKO RENDAH<\/strong><\/p>\n<div align=\"justify\">\n<ol>\n<li>Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pengembalian pendahuluan kelebihan Pajak <strong>dapat melakukan pemeriksaan<\/strong> kepada PKP berisiko rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4c) UU PPN, PKP kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C UU KUP, atau PKP yang memenuhi persyaratan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17D UU KUP<\/li>\n<li>Dalam hal berdasarkan <strong>hasil pemeriksaan; diterbitkan SKPKB<\/strong>, PKP kriteria tertentu atau PKP yang memenuhi persyaratan tertentu wajib membayar jumlah kekurangan Pajak ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% dari jumlah kekurangan pembayaran Pajak<\/li>\n<li>Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan diterbitkan SKPKB, PKP berisiko rendah wajib membayar jumlah kekurangan Pajak ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan, paling lama 24 bulan, dari jumlah kekurangan pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) UU KUP.<\/li>\n<\/ol>\n<p>(Sumber: www.pajak.go.id)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DASAR HUKUM Undang-undang PPN Nomor 42 Tahun 2009 Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 72\/PMK.03\/2010 tentang Tata Cara Pengembalian Kelebihan PPN\/PPnBM PKP HANYA DAPAT MENGAJUKAN PERMOHONAN PENGEMBALIAN (RESTITUSI) PADA AKHIR TAHUN BUKU Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan &hellip; <a href=\"https:\/\/aadriana.net\/?p=219\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,13],"tags":[],"class_list":["post-219","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pajak","category-ppn-pajak-pertambahan-nilai"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/219","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=219"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/219\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":220,"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/219\/revisions\/220"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=219"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=219"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aadriana.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=219"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}